Senin, 06 Mei 2013

PEMBUATAN INJEKSI FUROSEMID (TEKNOLOGI STERILISASI DAN ASEPTIS)


Nurul Fitri Ramadhani
Dara Sevada
Noor Rizky Aulia
Fathia Syahriana
Wahyu Rosita Dewi
Muhammad Fadli
Aric Hilman

I.          TUJUAN
Untuk memberikan panduan tata cara pembuatan sediaan injeksi dan mengetahui area kerja pembuatan sediaan steril serta melakukan evaluasi sediaan injeksi

II.         FORMULATION
              Formula umum untuk sediaan injeksi :
              R/  Furosemid                                  10 mg
                    Sodium Hidroksida                     1,34 mg
                    Sodium Klorida                           7,5 mg
                    Hydroklorid Acid                          qs
                    Water for injection (WFI)            qs
                    Gas Nitrogen                               qs (1)
             
              Formula modifikasi untuk sediaan injeksi :
              R/     Furosemid                               10 mg
                       Sodium Klorida                        7,5 mg
                       Sodium Hidroksida                  1,34 mg
                       Hydroklorid Acid (HCl)            qs
                       Water For injection (WFI)        qs (2)
               
III.       TANGGUNG JAWAB
1. Muhammad Fadli yang bertanggung jawab atas pelaksanaan prosedur tetap ini.
2. Nova Arum selaku supervisor dalam pelaksanaan prosedur tetap ini.

IV.       DEFINISI
      Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan,emulsi atau suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan,yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir (2). Injeksi volume kecil adalah injeksi yang dikemas dalam wadah 100 ml atau kurang(3).
      Pemberian obat secara parenteral (berarti “diluar usus”) biasanya dipilih bila diinginkan efek yang cepat,kuat,dan lengkap atau untuk obat yang merangsang atau dirusak getah lambung



(hormon), atau tidak direabsorbsi usus (streptomisin).Begitu pula pada pasien yang tidak sadar atau tidak mau bekerja sama.Keberatannya adalah cara ini lebih mahal dan nyeri serta sukar dugunakan oleh pasien sendiri.Selain itu,ada pula bahaya terkena infeksi kuman(harus steril) dan bahaya merusak pembuluh atau saraf jika tempat suntikan tidak dipilih dengan tepat.Intravena adalah injeksi kedalam pembuluh darah menghasilkan efek tercepat : dalam waktu 18 detik,yaitu waktu 1 peredaran darah ,obat sudah tersebar ke seluruh jaringan.Tetapi,lama kerja obat biasanya hanya singkat.
       
V.       PELAKSANAAN
      Metode                                : Metode sterilasi yang digunakan yaitu metode sterilisasi panas basah dan metode sterilisasi kering.Metode sterilisasi panas basah yaitu dengan menggunakan autoclave dengan suhu 121 º C selama 15 menit dan untuk sterilisasi kering dengan menggunakan oven pada suhu 170 º C selama 30 menit.  

         Bahan dan Alat                     : 
         Bahan :
1.    Furosemid
2.    Sodium Klorida
3.    Sodium Hidroksida
4.    Hydroklorid Acid (HCl)
5.    Water For injection (WFI)
      Alat :
1.   Kaca arloji
2.   Batang pengaduk
3.   Cawan porselen
4.   Gelas ukur
5.   Pipet tetes
6.   Corong
7.   Kertas saring
8.   Kapas
9.   Erlenmeyer
10.    Gelas beker
11. Vial
12.   Pinset

               Prosedur kerja                      :
1.    Sterilisasi alat :
Nama Alat
Jumlah
Cara sterilisasi
Waktu
Pinset logam
1
Oven 170 ᵒ C
30 menit
Batang pengaduk
1
Oven 170 ᵒ C
30 menit
Kaca arloji
2
Oven 170 ᵒ C
30 menit
Cawan porselen
1
Oven 170 ᵒ C
30 menit
Gelas ukur
2
Autoclave 121ᵒ C
15 menit
Pipet tetes tanpa karet
2
Autoclave 121ᵒ C
15 menit
Karet pipet
2
Rebus
30 menit
Corong gelas dan kertas saring lipat
1
Autoclave 121ᵒ C
15 menit
kapas

Autoclave 121ᵒ C
15 menit
erlenmeyer
3
Autoclave 121 ᵒ C
15 menit
Gelas beker
2
Autoclave 121ᵒ C
15 menit
ampul
1
Autoclave 121ᵒ C
15 menit

1.    Penimbangan bahan formulasi
Bahan
Jumlah yang ditimbang (mg)
Furosemid
50
NaOH
6,7
NaCl
449
Water For injection
50 ml
HCl
qs (1 tetes)

2.    Perhitungan
a.      Furosemid
10 mg/ml = 0,1 g/100 ml = 0,1 %
                 ΔTf = Liso x Berat x 1000 / BM x V
                  
                 = 1,86 x 0,01 x 1000
                        330,74 x 10
                 = 18,6 / 3307,4
                 = 5,624 x 10-3
                 Kesetaraan furosemid = ∆ tf X gram
                                                     = 5,624 x 10-3 X 0,1
                                                     =5,624 x 10-4
                      ∆tf yang ditambahkan = 0,52 – 5,624 x 10-4
                                                                       = 0,519
Setara dengan NaCl
                 = 0,519 / 0,52 x 0,9 gr / 100 ml
                 = 0,0898 gr/10 ml = 89,8 mg/10 ml

3.    Pembuatan sediaan injeksi furosemide

a.Pembuatan larutan furosemid

Disiapkan air (WFI) yang akan digunakan untuk persiapan larutan dengan kisaran ph 5,0 – 7,0 dan produk ini sensitif terhadap cahaya.Lindungi dari cahaya sebanyak mungkin saat pembuatan

Pembuatan WFI yaitu dengan mendidihkan air selama 30 menit dihitung dari setelah air mendidih diatas api lalu didinginkan

Ditambahkan dan dilarutkan sodium kloride dan sodium hydroxide

Ditambahkan furosemid ke dalam larutan di atas dan di aduk hingga terlarut menjadi suatu larutan

Di ukur ph larutan dengan menggunakan ph meter berkisar (8,5 – 9,1)

Disesuaikan ph jika perlu dengan larutan natrium hidroksida 10 % atau larutan 1N asam klorida 1 N.

Setelah menyesuaikan ph,dibuat volume untuk 100 ml dengan WFI sesuai langkah diatas dan dicampur selama 15 menit

Di ambil sampel untuk di uji pH





b.Persiapan ampul

Distrerilkan kaca ampul menggunakan gelas tipe I sebanyak 2 ml

Sterilisasi ampul yang akan diisi menggunakan autoclave selama 15 menit pada suhu 121ᵒ C

C.Uji kebocoran ampul


Dilakukan uji kebocoran ampul dengan membalikkan ampul dan terakhir di uji kejernihan dnegan melihatnya menggunakan latar belakang hitam



1.    Evaluasi :

1.   Evaluasi Kimia
a.   Furosemid
structural formula

Sinonim : Furosemid,Furosemidum
Struktur kimia : 4-chloro-N-furfuryl-5-sulphamolyanthranilic acid
Nama kimia : C12H11CIN2O5S
BM : 330,74
Furosemid mengandung tidak kurang dari 98,5 % dan tidak lebih dari 101,0 % C12H11CIN2O5S
Pemerian : serbuk hablur,putih atau hampir putih,tidak berbau,hampir tidak berasa.
Kelarutan :
Berdasarkan FI Ed III praktis tidak larut dalam air dan dalam kloroform,larut dalam 75 bagian etanol (95 %) dan dalam 850 bagian eter,larut dalam larutan alkali hidroksida,sedangkan menurut FI Ed IV praaktis tidak larut dalam air ,mudah larut dalam aseton,dalam metilformamida dan dalam larutan alkali hidroksida,larut dalam methanol,agak sukar larut dalam etanol,sukar larut dalam eter,sangat sukar larut dalam kloroform
pH : 8,9 – 9,3
fungsi : zat aktif (diuretik)
Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik (3,4)
b.      Sodium Hidroksida
Sodium hidroksida mengandung tidak kurang 95 % dan tidak lebih dari 100,5 % alkali jumlah,dihitung sebagai NaOH,mengandung Na2CO3 tidak lebih dari 3,0% Pemerian : Putih atau praktis putih,massa melebur,berbentuk pellet,serpihan,batang atau bentuk lain.Keras,rapuh,dan menunjukkan pecahan hablur.Bila dibiarkan di udara,akan cepat menyerap karbondioksida dan lembab.
Kelarutan : mudah larut dalam air dan dalam etanol
Wadah dan penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat
c.      Natrium kloridum
Sinonim : Sodium Chloride
Rumus molekul : NaCl
BM : 58.44
Pemerian : Serbuk kristal putih, tidak bewarna, mempunyai rasa garam (asin)

pH : 6.7 – 7.3
Kelarutan : Sedikit larut dalam etanol, larut dalam 250 bagian etanol 95%; larut dalam 10 bagian gliserin; larut dalam 2,8 bagian air dan 2,6 bagian air pada suhu 100ºC
Fungsi : Bahan pengatur tonisitas, sumber ion natrium
OTT : Larutan natrium klorida bersifat korosif dengan besi, membentuk endapan bila bereaksi dengan perak; garam merkuri; agen oksidasi kuat pembebas klorine dari larutan asam sodium klorida; kelarutan pengawet nipagin menurun dalam larutan sodium kloride.
Titik didih : 1439ºC
Titik lebur : 801ºC
Stabilitas : Larutan sodium klorida stabil tetapi dapat menyebabkan perpecahan partikel kaca dari tipe tertentu wadah kaca. Larutan steril ini dapat disterilisasi dengan autoklaf atau filtrasi dalam bentuk padatan stabil yang harus disimpan dalam wadah tertutup rapat, sejuk dan tempat kering.
a.      Acidum hydrochloridum
Sinonim : asam klorida
Rumus molekul : HCl
BM : 36.46
Pemerian : Cairan tidak berwarna; berasap; bau merangsang. Jika diencerkan
dengan 2 bagian volume air, asap hilang. Bobot jenis lebih kurang 1.18.
Stabilitas : bersifat korosif
Fungsi : sebagai campuran dapar
OTT : dengan basa, alkali karbonat, dengan garam perak dan garam merkuri
Wadah dan penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
b.      Aqua Pro Injeksi
Pemerian : Cairan jernih atau tidak bewarna, tidak berbau dan tidak berasa
Kelarutan : Dapat bercampur dengan pelarut polar dan elektrolit
Fungsi : Sebagai bahan pembawa sediaan intravena
OTT : Dalam sediaan farmasi, air dapat beraksi dengan obat dan zat
tambahan lainnya yang mudah terhidrolisis (mudah terurai dengan adanya atau kelembaban). Air dapat bereaksi kuat & cepat dengan logam alkali dan zat pengoksidanya seperti kalsium oksidan Magnesium oksida, air juga bereaksi dengan bahan organik.
Stabilitas : Air stabil dalam setiap keadaan (es;cairan;uap panas). Air untuk penggunaan khusus harus disimpan dalam wadah yang sesuai.
Pembuatan : Aqua destilata dipanaskan sampai mendidih kemudian dipanaskan 20 menit terbentuklah API

1.                          Evaluasi Fisika
a.                   Penetapan pH .   (FI ed. IV, hal 1039-1040)
Harga ph adalah harga yang diberikan oleh alat potensiometrik (ph meter) yang sesuai ,yang telah dibakukan sebagaimana mestinya ,yang mampu mengukur harga ph sampai 0,02 unit ph menggunakan elektrode indikator yang peka terhadap aktivitas ion hidrogen ,elektrode kaca dan elektrode pembanding yang sesuai seperti elektrode kalomel atau elektrode perak-perak klorida.
Alat harus mampu menunjukkan potensial dari pasangan elektrode dan untuk pembakuan ph menggunakan potensial yang dapat diatur ke sirkuit dengan menggunakan”pembakuan”, “nol”,”asometri”, atau “kalibrasi”, dan harus mampu mengontrol perubahan dalam milivolt per perubahan unit pada pembacaan ph melalui kendali “suhu” dan atau kemiringan.Pengukuran dilakukan pada suhu 25ᵒ ± 2ᵒ ,kecuali dinyatakan lain dalam masing-masing monografi.Jika ph larutan yang diukur mempunyai komposisi yang cukup miring dengan larutan dapar yang digunakan untuk pembakuan ,ph yang diukur mendekati ph teoritis.Keasaman dapat diukur saksama menggunakan elektrode dan instrumen yang dibakukan (3).
b.                  Uji Kejernihan Larutan  (FI ED. IV, hal 998)
Lakukan penetapan menggunakan tabung reaksi alas datar diameter 15 mm – 25 mm, tidak bewarna,tidak transparan,dan terbuat dari kaca netral.Masukkan ke dalam dua tabung reaksi masing-masing larutan zat uji dan suspensi pandanan yang sesuai secukupnya,yang dibuat segar dengan cara seperti tertera dibawah,sehingga volume larutan dalam tabung reaksi terisi setinggi tepat 40 mm.Bandingkan kedua isi tabung setelah 5 menit pembuatan suspensi pandanan,dengan latar belakang hitam.Pengamatan dilakukan dibawah cahaya yang terdifusi ,tegak lurus ke arah bawah tabung.Difusi cahaya harus sedemikian rupa sehingga suspensi pandanan I dapat langsung dibedakan dari air dan dari suspensi pandanan II.
Baku opalesen larutkan 1,0 gram hidrazina sulfat P dalam air secukupnya hingga 100,0 ml,biarkan selama 4 jam hingga 6 jam.Pada 25,0 ml larutan ini ditambahkan larutan 2,5 gram heksamina P dalam 25,0 ml air,campur dan biarkan selama 24


 jam.Suspensi ini stabil selama 2 bulan jika disimpan dalam wadah kaca yang bebas dari cacat permukaan.Suspensi tidak boleh menempel pada kaca dan harus dicampur dengan baik sebelum digunakan.
Untuk membat baku opalesen,encerkan 15,0 ml suspensi dengan air hingga 1000 ml.Suspensi harus digunakan dalam waktu 24 jam setelah pembuatan.
Suspensi pandanan ,buatlah suspensi pandanan I sampai dengan suspensi pandanan IV dengan cara seprti yang tertera pada tabel.Masing-masing suspensi harus tercampur baik dan dikocok sebelum digunakan.
Pernyataan kejernihan dan derajat opalesen suatu cairan dinyatakan jernih jika kejernihannya sama dengan air atau pelarut yang digunakan bila di amati dibawah kondisi seperti tersebut diatas atau jika opalesensinya tidak lebih nyata dari suspensi pandanan I.Persyaratan untuk derajat opalesensi dinyatakan dalam suspensi pandanan I,II,III (3).
a.         Uji Kebocoran   (Goeswin Agus, Larutan Parenteral)
-            Pada pembuatan kecil-kecilan hal ini dapat dilakukan dengan mata tetapi untuk produksi skala besar hal ini tidak mungkin dikerjakan. Wadah-wadah takaran tunggal yang masih panas setelah selesai disterilkan dimasukkan kedalam larutan biru metilen 0,1%. Jika ada wadah-wadah yang bocor maka larutan biru etilen akan dimasukkan kedalamnya karena perbedaan tekanan di luar dan di dalam wadah tersebut. Cara ini tidak dapat dilakukan untuk larutan-larutan yang sudah berwarna. Wadah-wadah takaran tunggal disterilkan terbalik, jika ada kebocoran maka larutan ini akan keluar dari dalam wadah. Wadah-wadah yang tidak dapat disterilkan, kebocorannya harus diperiksa dengan memasukkan wadah-wadah tersebut ke dalam eksikator yang divakumkan. Jika ada kebocoran akan diserap keluar (5).
II.        Pengemasan dan Penyimpanan 
Pengemasan      : Menggunakan ampul berwarna coklat
Penyimpanan     : Dalam wadah dosis tunggal, terlindung dari cahaya, ditempat sejuk

VI.      PEMBAHASAN
      Pada praktikum ini kami membuat sediaan injeksi parenteral dengan zat aktif furosemid. Menurut Farmakope Indonesia Edisi III, injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi, suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan terlebih dahulu sebelum digunakan, yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau melalui selaput lendir(4).
      Sedangkan menurut Farmakope Indonesia Edisi IV, injeksi adalah injeksi yang dikemas dalam wadah 100 mL atau kurang. Umumnya hanya larutan obat dalam air yang bisa diberikan secara intravena. Suspensi tidak bisa diberikan karena berbahaya yang dapat menyebabkan penyumbatan pada pembuluh darah kapiler(3).
Ruangan di industri farmasi merupakan salah satu aspek yang harus dijaga kebersihannya. Untuk menghindari terjadinya kontaminasi silang antar produk maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan :
1. Permukaan ruangan harus kedap air, tidak terdapat sambungan atau retakan, tidak merupakan tempat pertumbuhan mikroba, mudah dibersihkan, bagian sudut dan tepi dinding dibuat melengkung.
2. Pipa saluran udara, listrik dipasang diatas langit-langit.
3. Lampu penerangan harus dipasang rata dengan langit-langit.
4. Tahan terhadap bahan pembersih.
Area pabrik dibagi menjadi 4 zona dimana masing-masing zona memiliki spesifikasi tertentu. Empat zona tersebut meliputi :
1.    Black area
Area ini disebut juga area kelas E. Ruangan ataupun area yang termasuk dalam kelas ini adalah koridor yang menghubungkan ruang ganti dengan area produksi, area staging bahan kemas dan ruang kemas sekunder. Setiap karyawan wajib mengenakan sepatu dan pakaian black area (dengan penutup kepala)
2.    Grey area
Area ini disebut juga area kelas D. Ruangan ataupun area yang masuk dalam kelas ini adalah ruang produksi produk non steril, ruang pengemasan primer, ruang timbang, laboratorium mikrobiologi (ruang preparasi, ruang uji potensi dan inkubasi), ruang sampling di gudang.  Setiap karyawan yang masuk ke area ini wajib mengenakan gowning (pakaian dan sepatu grey). Antara black area dan grey area dibatasi ruang ganti pakaian grey dan airlock.
3.    White area
Area ini disebut juga area kelas C, B dan A (dibawah LAF). Ruangan yang masuk dalam area ini adalah ruangan yang digunakan untuk penimbangan bahan baku produksi steril, ruang mixing untuk produksi steril , background ruang filling , laboratorium mikrobiologi (ruang uji sterilitas). Setiap karyawan yang akan memasuki area ini wajib mengenakan pakaian antistatik (pakaian dan sepatu yang tidak melepas partikel). Antara grey area dan white area dipisahkan oleh ruang ganti pakaian white dan airlock.
Airlock berfungsi sebagai ruang penyangga antara 2 ruang dengan kelas kebersihan yang berbeda untuk mencegah terjadinya kontaminasi dari ruangan dengan kelas kebersihan lebih rendah ke ruang dengan kelas kebersihan lebih tinggi. Berdasarkan CPOB, ruang diklasifikasikan menjadi kelas A, B, C, D dan E, dimana setiap kelas memiliki persyaratan jumlah partikel, jumlah mikroba, tekanan, kelembaban udara dan air change rate(6).
Sediaan injeksi memiliki keuntungan dan kerugian yaitu :
            Keuntungan injeksi :
1.               Respon fisiologis yang cepat dapat dicapai segera bila diperlukan, yang menjadi pertimbangan utama dalam kondisi klinik seperti gagal jantung, asma, shok.
2.                Terapi parenteral diperlukan untukobat-obat yang tidak efektif secara oral atau yang dapat dirusak oleh saluran pencernaan, seperti insulin, hormon dan antibiotik.
3.                Obat-obat untuk pasien yang tidak kooperatif, mual atau tidak sadar harus diberikan secara injeksi.
4.            Bila memungkinkan, terapi parenteral memberikan kontrol obat dari ahli karena pasien harus kembali untuk pengobatan selanjutnya. Juga dalam beberapa kasus, pasien tidak dapat menerima obat secara oral.
5.            Penggunaan parenteral dapat menghasilkan efek lokal untuk obat bila diinginkan seperti pada gigi dan anestesi.
6.            Dalam kasus simana dinginkan aksi obat yang diperpanjang, bentuk parenteral tersedia, termasuk injeksi steroid periode panjang secara intra-artikular dan penggunaan penisilin periode panjang secara i.m.
7.            Terapi parenteral dapat memperbaiki kerusakan serius pada keseimbangan cairan dan elektrolit.
8.            Bila makanan tidak dapat diberikan melalui mulut, nutrisi total diharapkan dapat dipenuhi melalui rute parenteral.
9.            Aksi obat biasanya lebih cepat.                                  
10.         Seluruh dosis obat digunakan.                    
11.         Beberapa obat, seperti insulin dan heparin, secara lengkap tidak aktif ketika diberikan secara oral, dan harus diberikan secara parenteral.
12.         Beberapa obat mengiritasi ketika diberikan secara oral, tetapi dapat ditoleransi ketika diberikan secara intravena, misalnya larutan kuat dektrosa.
13.         Jika pasien dalam keadaan hidrasi atau shok, pemberian intravena dapat menyelamatkan hidupnya.
Kerugian Injeksi
1.                   Bentuk sediaan harus diberikan oleh orang yang terlatih dan membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan pemberian rute lain.
2.                   Pada pemberian parenteral dibutuhkan ketelitian yang cukup untuk pengerjaan secara aseptik dari beberapa rasa sakit tidak dapat dihindari.
3.                   Obat yang diberikan secara parenteral menjadi sulit untuk mengembalikan efek fisiologisnya.
4.                   Yang terakhir, karena pada pemberian dan pengemasan, bentuk sediaan parenteral lebih mahal dibandingkan metode rute yang lain.
5.                   Beberapa rasa sakit dapat terjadi seringkali tidak disukai oleh pasien, terutama bila sulit untuk mendapatkan vena yang cocok untuk pemakaian i.v.
6.                   Dalam beberapa kasus, dokter dan perawat dibutuhkan untuk mengatur dosis.
7.                   Sekali digunakan, obat dengan segera menuju ke organ targetnya. Jika pasien hipersensitivitas terhadap obat atau overdosis setelah penggunaan, efeknya sulit untuk dikembalikan lagi.
8.                   Pemberian beberapa bahan melalui kulit membutuhkan perhatian sebab udara atau mikroorganisme dapat masuk ke dalam tubuh. Efek sampingnya dapat berupa reaksi phlebitis, pada bagian yang diinjeksikan(7).
Sediaan injeksi harus dibuat isotonis karena apabila hipertonis saat di suntikkan,air dalam sel akan ditarik keluar dari sel sehingga sel akan mengerut dan apabila larutan hipotonis disuntikkan,maka air dari larutan injeksi akan diserap dan masuk ke dalam sel akibatnya sel akan mengembang dan pecah(8).Setelah dilakukan evaluasi uji pH dengan 3x replikasi didapat ph 9,3.Nilai tersebut belum masuk range ph yang baik untuk injeksi yang berkisar antara 8,5 – 9,1.hal ini mungkin dapat disebabkan karena jumlah NaOH yang terlalu banyak,kurang ditambah HCl atau mungkin terjadi kesalahan saat menambahkan water for injection.
Sediaan injeksi dengan zat aktif furosemid ini digunakan untuk terapi hipertensi intrakranium,membantu mencegah terjadinya retensi cairan dengan menghambat Anti Diuretik Hormon(9).Formulasi yang kami buat berisi zat aktif berupa furosemid,zat pembawa yaitu water for injection,zat tambahan seperti pengisotonis dan buffer.Dosis yang digunakan untuk injeksi furosemid yaitu dewasa : edema awal 20 – 40 mg IV atau 1M dosis tunggal ,dapat ditingkatkan menjadi 20 mg,pemberiaan tdk boleh <2 jam setelah dosis awal,Edema paru akut awal 40 mg IV secara perlahan,dapat ditingkatkan jadi 80 mg,Anak 1 mg/kgBB 1M atau IV,maks : 6 mg/kgBB(10).

VI.      KESIMPULAN
1.Praktikan berhasil membuat sediaan injeksi steril furosemid
2.Hasil evaluasi sediaan injeksi dari masing-masing uji yaitu:
a)    Uji kebocoran,dari 5 ampul yang teruji tidak bocor hanya 2 karena 3 ampul tidak terbentuk
b)    Uji pH ,injeksi yang dibuat diperoleh ph 9,3,hal tersebut belum termasuk range ph dalam   sediaan injeksi
c)    Uji kejernihan,sediaan injeksi kami jerni setelah dilihat dengan latar belakang hitam secara visual.

VII.     LAMPIRAN
         Semua literatur yang digunakan.

VIII.    ACUAN/REFERENSI PROSEDUR TETAP
1.    Niazi, S.K., 2004, Handbook of Pharmaceutical Manufacturing Formulations : Sterile Products, CRC Press, United States of America
2.    Ukpar., 2007, Furosemide 10 mg/ml solution for Injection or Infusion,PL.20851/0003 and PL.20851/0004 (download at : 21 Maret 2013 )
3.    Anonim, 1995, Farmakope Indonesia Edisi IV, Departemen Kesehatan Republik Indonesia,Jakarta,hal : 13
4.    Anonim, 1979, Farmakope Indonesia Edisi III, Departemen Kesehatan Republik Indonesia,Jakarta,hal
5.    Agoes, Goeswandi., 1967, Larutan Parenteral,Multi Karja,Surabaya
6.    Anonim, 2012, Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB), Badan Pobat dan Makanan, Jakarta
7.    Lukas, S., 2006. Formulasi Steril. C.V. Yogyakarta
8.    Arni, R N. , 2012, Laporan Praktikum Steril Pembuatan Sediaan Vitamin B1 Injeksi, Departemen Kesehatan Republik Indonesia,Akademi Farmasi Putra Indonesia,Malang
9.    Muttaqin,Arif.,2009,Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Kardiovaskular,Salemba Medika,Jakarta,hal : 145
Ikatan Apoteker Indonesia,2012,Informasi Spesialite Obat Volume 47,Jakarta 




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar