Senin, 06 Mei 2013

PEMBUATAN INFUS RINGER LAKTAT


Nurul Fitri Ramadhani
Dara Sevada
Noor Rizky Aulia
Fathia Syahriana
Wahyu Rosita Dewi
Muhammad Fadli
Aric Hilman

I.          TUJUAN
Untuk memberikan panduan tata cara pembuatan sediaan infus dan mengetahui area kerja pembuatan sediaan steril serta melakukan evaluasi

II.        FORMULATION
              Formula umum untuk sediaan infuse
            R/        Lactic acid                               0.0024 ml
Sodium hydroxide                   1.16 mg
Hydrochloric acid dilute          0.00063 ml
Sodium chloride                      6.00 mg
Potassium chloride                 0.40 mg
Calcium chloride dehydrate    0.27
                       Water for injection                   qs ml (1).

              Formula Modifikasi
              R/     Natrium Laktat             0.108 g
                       NaCl                            4.189 g
                       KCl                               0.2 g
                       CaCl2                         0.14 g
                       Water for injection       500 ml
                         
III.       TANGGUNG JAWAB
1.    Noor Rizki Aulia yang bertanggung jawab atas pelaksanaan prosedur tetap ini.
2.    Anisa Rahma selaku supervisor dalam pelaksanaan prosedur tetap ini.

IV.      DEFINISI
         Sediaan Injeksi Volume Besar adalah larutan produk obat yang disterilisasi akhir dan dikemas dalam wadah dosis tunggal dengan kapasitas 100 ml atau lebih dan ditujukan untuk manusia. Parenteral volume besar meliputi infus intravena, larutan irigasi, larutan dialisis peritonal & blood collecting units with antikoagulant (2).
         Definisi yang diperluas dari sediaan parenteral volume besar adalah produk obat dengan pembawa air dalam bentuk konterner dosis tunggal, disterilkan secara terminal dengan kapasitas 100 mililiter atau lebih, yang digunakan atau diberikan kepada manusia(3).
Persyaratan Infus Intravena :
a. Sediaan steril berupa larutan atau emulsi
b. Bebas pirogen
c. Sedapat mungkin dibuat isotonis terhadap darah
d. Infus emulsi dibuat dengan air sebagai fase luar, diameter fase dalam tidak lebih dari 5
e. Infus intravena tidak mengandung bakterisida dan zat dapar
f. Larutan untuk infus intravena harus jernih dan praktis bebas partikel
g. Emulsi untuk infus intravena setelah dikocok harus homogen dan tidak menunjukkan pemisahan fase,  diameter globul fase terdispersi untuk infus intravena harus dinyatakan
h. Volume netto / volume terukur tidak kurang dari nilai nominal
i. Penyimpanan dalam wadah dosis tunggal.
j. Penandaan :
Etiket pada larutan yang diberikan secara intra vena untuk melengkapi cairan, makanan bergizi, atau elektrolit dan injeksi manitol sebagai diuretika osmotik, disyaratkan untuk mencantumkan kadar osmolarnya. Jika keterangan mengenai osmolalitas diperlukan dlm monografi masing-masing, pada etiket hendaknya disebutkan kadar osmolar total dlm miliosmol per liter.
k. Memenuhi syarat injeksi. Kecuali dinyatakan lain, syarat injeksi meliputi.(4)  
Infus Ringer Laktat adalah larutan steril dari Kalsium klorida, Kalium klorida, Natrium klorida dan Natrium laktat dalam Air untuk injeksi. Tiap 100 ml mengandung tidak kurang dari 285,0 mg dan tidak lebih dari 315,0 mg natrium (sebagai NaCl dan C3H5NaO3), tidak kurang dari 14,1 mg dan tidak lebih dari 17,3 mg kalium (K, setara dengan tidak kurang dari 27,0 mg dan tidak lebih dari 33,0 mg KCL), tidak kurang dari 4,90 mg dan tidak lebih dari 6,00 mg kalsium (Ca, setara dengan tidak kurang dari 18,0 mg dan tidak lebih dari 22,0 mg CaCl2.2H20), tidak kurang dari 368.0 mg dan tidak lebih dari 408,0 mg klorida (Cl, sebagai NaCl, KCl dan CaCl2.2H20), dan tidak kurang dari 231,0 mg dan tidak lebih dari 261,0 mg laktat (C3H5O3, setara dengan tidak kurang dari 290,0 mg dan tidak lebih dari 330,0 mg C3H5NaO3). Injeksi Ringer laktat tidak boleh mengandung bahan antimikroba
   Pemerian bahan :
Sodium Laktat 
·         Kelarutan : Larut dalam air, alkohol dan gliserol. Praktis tidak larut dalam kloroform, eter dan minyak.
·         Sterilisasi : Autoklaf atau filtrasi
·         OTT : Dengan Novobiosin sodium, Oksitetrasiklin HCl, Sodium Bikarbonat, Sodiumkalsiumedetat dan Sulfadialin sodium
·         KontraIndikasi : Pada penderita gangguan fungsi hati.
·         pH : 5-7
·         E Sodium laktat : 0.55 (4).
NaCl (Natrium klorida)
      • Rumus molekul : NaCl
      • Bobot molekul : 58,44
      • Pemerian : Kristal tidak berbau tidak berwarna atau serbuk kristal putih, tiap 1g setara dengan 17,1 mmol NaCl.
      • 2,54g NaCl ekivalen dengan 1 g Na
      • Kelarutan : 1 bagian larut dalam 3 bagian air, 10 bagian gliserol
      • Sterilisasi : Autoklaf atau filtrasi
      • Stabilitas : Stabil dalam bentuk larutan. Larutan stabil dapat menyebabkan pengguratan partikel dari tipe gelas
      • pH : 4,5 –7(DI 2003 hal 1415) 6,7-7,3
      • OTT : logam Ag, Hg, Fe
      • E NaCl : 1
      • Kesetaraan E elektrolit : 1 g ≈ 17,1 mEq
      • Konsentrasi/dosis : lebih dari 0,9% (Excipient hal 440). Injeksi IV 3-5% dalam 100ml selama 1 jam (DI 2003 hal 1415). Injeksi NaCl mengandung 2,5-4 mEq/ml. Na+ dalam plasma = 135-145 mEq/L.
      • Khasiat/kegunaan : Pengganti ion Na+, Cl- dalam tubuh
      • Efek samping : Keracunan NaCl disebabkan oleh induksi yang gagal dapat menyebabkan hipernatremia yang memicu terjadinya trombosit dan hemorrage. Efek samping yang sering terjadi nausea, mual, diare, kram usus, haus, menurunkan salivasi dan lakrimasi, berkeringat, demam, hipertensi, takikardi, gagal ginjal, sakit kepala, lemas, kejang, koma dan kematian.
      • Kontraindikasi : Untuk pasien penyakit hati perifer udem atau pulmonali udem, kelainan fungsi ginjal.
      • Farmakologi : berfungsi untuk mengatur distribusi air, cairan dan keseimbangan elektrolit dan tekanan osmotik cairan tubuh(4).
CaCl2
§  Pemerian : Granul atau serpihan, putih, keras, tidak berbau.
§  Kelarutan : Mudah larut dalam air, dalam etanol, dan dalam etanol mendidih, sangat mudah larut dalam air panas.
§  pH : 4,5 – 9,2 (5% larutan air)
§  OTT : karbonat, fosfat, sulfat, tartrat, sefalotin sodium, CTM dengan tetrasiklin membentuk kompleks
§  Stabilitas : Injeksi kalsium dilaporkan inkompatibel dengan larutan IV yang mengandung banyak zat aktif.
§  Kegunaan : Untuk mempertahankan elektrolit tubuh, untuk hipokalemia, sebagai elektrolit yang esensial bagi tubuh untuk mencegah kekurangan ion kalsium yang menyebabkan iritabilitas dan konvulsi.
§  Sterilisasi : autoklaf
§  Kesetaraan equivalent elektroit :
§  1 g CaCl2 ≈13,6 mEq Ca++
§  Ekuivalensi : 0,51
§  Farmakologi : penting untuk fungsi integritas dari saraf musular, sistem skeletal, membran sel dan permeabilitas kapiler
KCl
§  Pemerian : Kristal atau serbuk kristal putih atau tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa atau berasa asin.
§  Kelarutan : Larut dalam air, sangat mudah larut dalam air panas, praktis tidak larut dalam eter, etanol dan alkohol.
§  pH : 4-8
§  Konsentrasi : 2,5-11,5%
§  Dosis : konsentrasi kalium pada rute iv tidak lebih dari 40 mEq/L dengan kecepatan 20 mEq/jam ( untuk hipokalemia). Untuk mempertahankan konsentrasi kalium pada plasma 4 mEq/L ( DI 2003 hal 1410). K+ dalam plasma = 3,5-5 mEq/L ( steril dosage form hal 251)
§  Stabilitas : Stabil dan harus disimpan dalam wadah tertutup rapat, ditempat sejuk dan kering.
§  Kegunaan : Biasa digunakan dalam sediaan parenteral sebagai senyawa pengisotonis.
§  OTT : Larutan KCl IV inkompatibel dengan protein hidrosilat, perak dan garam merkuri.
§  Sterilisasi : Dengan autoklaf atau filtrasi.
§  Kesetaraan equivalent elektrolit :
§  1 g KCl ≈ 13,4 mEq K+
§  Ekuivalen : 0,76
Aqua Pro Injeksi
§  Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau
§  Sterilisasi : Kalor basah (autoklaf)
§  Kegunaan : Pembawa dan melarutkan
§  Alasan pemilihan : Karena digunakan untuk melarutkan zat aktif dan zat-zat tambahan
Cara pembuatan : didihkan aqua dan diamkan selama 30 menit, dinginkan (4).
V.        PELAKSANAAN
Metode :
Metode sterilasi yang digunakan yaitu metode sterilisasi panas basah dan metode sterilisasi kering.Metode sterilisasi panas basah yaitu dengan menggunakan autoclave dengan suhu 121 º C selama 15 menit dan untuk sterilisasi kering dengan menggunakan oven pada suhu 170 º C selama 30 menit. 
      Bahan dan Alat :
Bahan :
1.    Na. Lactate
2.    NaCl
3.    KCl
4.    CaCl
5.    Water For injection (WFI)
      Alat :
1.   Kaca arloji
2.   Batang pengaduk
3.   Cawan porselen
4.   Gelas ukur
5.   Pipet tetes
6.   Corong
7.   Kertas saring
8.   Kapas
9.   Erlenmeyer
                  10. Gelas beker
                  11. Botol infus
   12. Pinset
        
               Prosedur kerja :
1.    Sterilisasi alat :
               Sterilisasi alat :
Nama Alat
Jumlah
Cara sterilisasi
Waktu
Pinset logam
1
Oven 170ºC
30 menit
Batang pengaduk
1
Oven 170ºC
30 menit
Kaca arloji
2
Oven 170ºC
30 menit
Cawan porselen
1
Oven 170ºC
30 menit
Gelas ukur
2
Autoclave 121ºC
15 menit
Pipet tetes tanpa karet
2
Autoclave 121ºC
15 menit
Karet pipet
2
Rebus
30 menit
Corong gelas dan kertas saring lipat
1
Autoclave 121ºC
15 menit
Kapas

Autoclave 121ºC
15 menit
Erlenmeyer
3
Autoclave 121ºC
15 menit
Gelas beker
2
Autoclave 121ºC
15 menit
Botol infus
1
oven 170ºC
15 menit

2.    Penimbangan bahan formulasi
Bahan
Jumlah yang ditimbang (g)
Na. Lactate
0.108
NaCl
4.189
KCl
0.2
CaCl
0.14
Water For injection
500 ml

3.    Perhitungan
Pembuatan sediaan infus

KCl  = 0.2 g/500 ml
     = 0.049/100 ml
    = 0.04 % X 0.76
      = 0.0304 g/100 ml

CaCl = 0.14 g/500 ml
         = 0.028/100 ml
         = 0.028 % X 0.70
        = 0.0196 g/100 ml
  
Na. Lactate = 0.108 g/500 ml
    = 0.021/100 ml
    = 0.021 % X 0.58
    = 0.0122 g/100 ml

NaCl yang ditambahkan :
NaCl = 0.9 – (0.0304+0.0196+0.0122)
         = 0.8378 g/ 100ml
                     = 4.189 g/ 500 ml

            Volume infus 500 ml
·         Dilebihkan 2% -> apabila sediaan lebih dari 50 ml
·         Lalu dilebihkan 10% ­-> saat pesterilan
·         Volume infus 1 botol  500 ml
Volume setelah ditambahkan 2% = 500 ml + (2% X 500ml)
                                                  = 500 ml + 10 ml
                                                  = 510 ml

Volume total untuk antisipasi 10%
Volume total = 510 ml + 10%
                      = 510 ml + 51 ml
                      = 561 ml
Pembuatan Larutan infus Ringer Lactate :
1. Larutan pertama, dilarutkan Na. Lactate dengan WFI secukupnya hingga larut
2. Larutan kedua, dilarutkan CaCl dan KCl dengan WFI hingga larut
3. Campurkan kedua larutan (larutan 1 dan larutan 2)
4. di tambahkan NaCl
5. Disaring menggunakan kertas saring
6. Cek pH larutan antara 3 – 5 (tanpa dapar), jika kurang asam ditambah HCl 0,1 N sedangkan bila kurang basa ditambah NaOH 0,1 N
5. Tambahkan sisa WFI
6. Gojog larutan hingga homogen
7. masukkan larutan kedalam alat vacum penyaring
8. Masukan larutan dalam wadah yang sesuai, kemudian ditutup kedap
9. Perikasa larutan terhadap :
a. Kebocoran
b. Partikel asing
c. Kejernihan
10. Beri etiket

Evaluasi :
  1. Penetapan pH . 
Harga ph adalah harga yang diberikan oleh alat potensiometrik (ph meter) yang sesuai ,yang telah dibakukan sebagaimana mestinya ,yang mampu mengukur harga ph sampai 0,02 unit ph menggunakan elektrode indikator yang peka terhadap aktivitas ion hidrogen ,elektrode kaca dan elektrode pembanding yang sesuai seperti elektrode kalomel atau elektrode perak-perak klorida.
Alat harus mampu menunjukkan potensial dari pasangan elektrode dan untuk pembakuan ph menggunakan potensial yang dapat diatur ke sirkuit dengan menggunakan”pembakuan”, “nol”,”asometri”, atau “kalibrasi”, dan harus mampu mengontrol perubahan dalam milivolt per perubahan unit pada pembacaan ph melalui kendali “suhu” dan atau kemiringan.Pengukuran dilakukan pada suhu 25ᵒ ± 2ᵒ ,kecuali dinyatakan lain dalam masing-masing monografi.Jika ph larutan yang diukur mempunyai komposisi yang cukup miring dengan larutan dapar yang digunakan untuk pembakuan ,ph yang diukur mendekati ph teoritis.Keasaman dapat diukur saksama menggunakan elektrode dan instrumen yang dibakukan (4).

  1. Uji Kejernihan Larutan 
Lakukan penetapan menggunakan tabung reaksi alas datar diameter 15 mm – 25 mm, tidak berwarna,tidak transparan,dan terbuat dari kaca netral.Masukkan ke dalam dua tabung reaksi masing-masing larutan zat uji dan suspensi pandanan yang sesuai secukupnya,yang dibuat segar dengan cara seperti tertera dibawah,sehingga volume larutan dalam tabung reaksi terisi setinggi tepat 40 mm.Bandingkan kedua isi tabung setelah 5 menit pembuatan suspensi pandanan,dengan latar belakang hitam.Pengamatan dilakukan dibawah cahaya yang terdifusi ,tegak lurus ke arah bawah tabung.Difusi cahaya harus sedemikian rupa sehingga suspensi pandanan I dapat langsung dibedakan dari air dan dari suspensi pandanan II.
Baku opalesen larutkan 1,0 gram hidrazina sulfat P dalam air secukupnya hingga 100,0 ml,biarkan selama 4 jam hingga 6 jam.Pada 25,0 ml larutan ini ditambahkan larutan 2,5 gram heksamina P dalam 25,0 ml air,campur dan biarkan selama 24 jam.Suspensi ini stabil selama 2 bulan jika disimpan dalam wadah kaca yang bebas dari cacat permukaan.Suspensi tidak boleh menempel pada kaca dan harus dicampur dengan baik sebelum digunakan.
Untuk membat baku opalesen,encerkan 15,0 ml suspensi dengan air hingga 1000 ml. Suspensi harus digunakan dalam waktu 24 jam setelah pembuatan.
Suspensi pandanan ,buatlah suspensi pandanan I sampai dengan suspensi pandanan IV dengan cara seprti yang tertera pada tabel.Masing-masing suspensi harus tercampur baik dan dikocok sebelum digunakan.
Pernyataan kejernihan dan derajat opalesen suatu cairan dinyatakan jernih jika kejernihannya sama dengan air atau pelarut yang digunakan bila di amati dibawah kondisi seperti tersebut diatas atau jika opalesensinya tidak lebih nyata dari suspensi pandanan I.Persyaratan untuk derajat opalesensi dinyatakan dalam suspensi pandanan I,II,III (3).

3. Uji Kebocoran 
Pada pembuatan kecil-kecilan hal ini dapat dilakukan dengan mata tetapi untuk produksi skala besar hal ini tidak mungkin dikerjakan. Wadah-wadah takaran tunggal yang masih panas setelah selesai disterilkan dimasukkan kedalam larutan biru metilen 0,1%. Jika ada wadah-wadah yang bocor maka larutan biru etilen akan dimasukkan kedalamnya karena perbedaan tekanan di luar dan di dalam wadah tersebut. Cara ini tidak dapat dilakukan untuk larutan-larutan yang sudah berwarna. Wadah-wadah takaran tunggal disterilkan terbalik, jika ada kebocoran maka larutan ini akan keluar dari dalam wadah. Wadah-wadah yang tidak dapat disterilkan, kebocorannya harus diperiksa dengan memasukkan wadah-wadah tersebut ke dalam eksikator yang divakumkan. Jika ada kebocoran akan diserap keluar (5).

d. Pengemasan dan Penyimpanan :
Pengemasan   : Menggunakan kaca atau plastik terutama tipe I atau tipe II
Penyimpanan  : Dalam wadah dosis tunggal, terlindung dari cahaya, ditempat sejuk

VI.      PEMBAHASAN
Sterilisasi adalah suatu proses untuk membunuh semua jasad renik yang ada, sehingga jika ditumbuhkan di dalam suatu medium tidak ada lagi jasad renik yang dapat berkembang biak.Sterilisasi harus dapat membunuh jasad renik yang palinga tahan panas yaitu spora bakteri.
Sterilisasai adalah tahap awal yang penting dari proses pengujian mikrobiologi. Sterilisasiadalah suatu proses penghancuran secara lengkap semua mikroba hidup dan spora-sporanya. Ada 5 metode umum sterilisasi yaitu :
• Sterilisasi uap (panas lembap)
• Sterilisasi panas kering
• Sterilisasi dengan penyaringan
• Sterilisasi gas
• Sterilisasi dengan radiasi (11).
Area pabrik dibagi menjadi 4 zona dimana masing-masing zona memiliki spesifikasi tertentu. Empat zona tersebut meliputi :
a.      Unclassified Area
Area ini merupakan area yang tidak dikendalikan (Unclassified area) tetapi untuk kepentingan tertentu ada beberapa parameter yang dipantau. Termasuk didalamnya adalah laboratorium kimia (suhu terkontrol), gudang (suhu terkontrol untuk cold storage dan cool room), kantor, kantin, ruang ganti dan ruang teknik. 
b.      Black area
Area ini disebut juga area kelas E. Ruangan ataupun area yang termasuk dalam kelas ini adalah koridor yang menghubungkan ruang ganti dengan area produksi, area staging bahan kemas dan ruang kemas sekunder. Setiap karyawan wajib mengenakan sepatu dan pakaian black area (dengan penutup kepala)
c.       Grey area
Area ini disebut juga area kelas D. Ruangan ataupun area yang masuk dalam kelas ini adalah ruang produksi produk non steril, ruang pengemasan primer, ruang timbang, laboratorium mikrobiologi (ruang preparasi, ruang uji potensi dan inkubasi), ruang sampling di gudang.  Setiap karyawan yang masuk ke area ini wajib mengenakan gowning (pakaian dan sepatu grey). Antara black area dan grey area dibatasi ruang ganti pakaian grey dan airlock.
d.      White area
Area ini disebut juga area kelas C, B dan A (dibawah LAF). Ruangan yang masuk dalam area ini adalah ruangan yang digunakan untuk penimbangan bahan baku produksi steril, ruang mixing untuk produksi steril ,background ruang filling , laboratorium mikrobiologi (ruang uji sterilitas). Setiap karyawan yang akan memasuki area ini wajib mengenakan pakaian antistatik (pakaian dan sepatu yang tidak melepas partikel). Antara grey area dan white area dipisahkan oleh ruang ganti pakaian white dan airlock.
Airlock berfungsi sebagai ruang penyangga antara 2 ruang dengan kelas kebersihan yang berbeda untuk mencegah terjadinya kontaminasi dari ruangan dengan kelas kebersihan lebih rendah ke ruang dengan kelas kebersihan lebih tinggi. Berdasarkan CPOB, ruang diklasifikasikan menjadi kelas A, B, C, D dan E, dimana setiap kelas memiliki persyaratan jumlah partikel, jumlah mikroba, tekanan, kelembaban udara dan air change rate.

Tabel pembagian kelas ruangan berdasarkan jumlah partikel
Hygine Zoning
Kelas
Jumlah partikel/m3
At rest
In Operational
0,5 (µm)
5,0 (µm)
0,5 (µm)
5,0 (µm)
A
100
≤ 3.520
≤ 20
≤ 3.520
≤ 20
B
100
≤ 3.520
≤ 29
≤ 352.000
≤ 2.900
C
10.000
≤ 352.000
≤ 2.900
≤ 3.520.000
≤ 29.000
D
100.000
≤ 3.520.000
≤ 29.000
NS
NS
E1
UC
NS
NS
NS
NS
E2
UC
NS
NS
NS
NS
E3
UC
NS
NS
NS
NS

Hygine Zoning
Class
Limit for Microbial contamination (In operation)
Air sample (cfu/m3)
Settle plates diam. 90mm (cfu/4 hours)
Glove print, 5 fingers (cfu/glove)
A
100
< 1
< 1
< 1
B
100
10
5
5
C
10.000
100
50
NS
D
100.000
200
100
NS
E1
UC
NS
NS
NS
E2
UC
NS
NS
NS
E3
UC
NS
NS
NS
Keterangan :    UC = Unclassified
                       NS=No Specification
Kondisi at rest yaitu kondisi dimana tidak ada operator yang beraktivitas di dalam ruangan, mesin dalam kondisi beroperasi, sedangkan kondisi in operational yaitu kondisi dimana ada operator yang sedang bekerja di dalam ruangan dan kondisi mesin sedang beroperasi
(12).
Infus merupakan sediaan steril, berupa larutan atau emulsi dengan air sebagai fase kontinu; biasanya dibuat isotonis dengan darah.Prinsipnya infus dimaksudkan untuk pemberian dalam volume yang besar.Infus tidak mengandung tambahan berupa pengawet antimikroba.Larutan untuk infus, diperiksa secara visible pada kondisi yang sesuai, adalah jernih dan praktis bebas partikel-partikel.Emulsi pada infus tidak menujukkan adanya pemisahan fase.
Tujuan Pemberian Infus ;
1. Mempertahankan atau mengganti cairan tubuh yang mengandung air, elektrolit,vitamin, protein lemak, dan kalori yang tidak dapat dipertahankan secara adekuatmelalui oral
2. Memperbaiki keseimbangan asam basa
3. Memperbaiki volume komponen-komponen darah
4. Memberikan jalan masuk untuk pemberian obat-obatan kedalam tubuh
5. Memonitor tekan Vena Central (CVP)
6. Memberikan nutrisi pada saat system pencernaan di istirahatkan
Rute pemakaian secara intravena diindikasikan untuk keadaan :
1. Obat tidak dapat diabsorpsi secara oral
2. Terjadinya absorpsi yang tidak teratur setelah penyuntikan secara intramuskular
3. Obat menjadi tidak aktif dalam saluran pencernaan
4. Perlunya respon yang cepat
5. Pasien tidak dapat mentoleransi obat atau cairan secara oral.
6. Rute pemberian secara intramuskular atau subkutan tidak praktis
7. Obat harus terencerkan secara baik atau diperlukannya cairan pembawa
8. Obat mempunyai waktu paruh yang sangat pendek dan harus diinfus secara terus menerus
9. Diperlukan perbaikan ketidakseimbangan cairan dan elektrolit
10. Obat hanya bersifat aktif oleh pemberian secara intravena
Keuntungan pemberian secara intravena :
1. Dapat digunakan untuk pemberian obat agar bekerja cepat, seperti pada keadaan gawat.
2. Dapat digunakan untuk penderita yang tidak dapat diajak bekerja sama dengan baik, tidak sadar, tidak dapat atau tidak tahan menerima pengobatan melalui oral.
3. Penyerapan dan absorbsi dapat diatur(9).
Beberapa kemungkinan terjadinya kerugian dalam pembuatan infus seperti :
1. Emboli udara
2. Inkompatibilitas obat
3. Hipersensitivitas
4. Infiltrasi atau ekstravasasi
5. Sepsis
6. Thrombosis atau phlebitis
7. Kerugian yang lain:
a.    Pemakaian sediaan lebih sulit dan lebih tidak disukai oleh pasien.
b.    Obat yang telah diberikan secara intravena tidak dapat ditarik lagi.
c.    Lebih mahal daripada bentuk sediaan non sterilnya karena lebih ketatnya persyaratan yang harus dipenuhi (steril, bebas pirogen, jernih, praktis bebas partikel)(9).
Contoh infus dipasaran :
1.    Infus Ringer Laktat (RL)
Cara Kerja Obat : infuse Ringer Laktat adalah komposisi elektrolit dan konsentrasinya yang sangat serupa dengan yang dikandung cairan ekstraseluler. Natrium merupakan kation utama dari plasma darah dan menentukan tekanan osmotik. Klorida merupakan anion utama di plasma darah. Kalium merupakan kation terpenting di intraseluler dan berfungsi untuk konduksi saraf dan otot. Elektrolit-elektrolit ini dibutuhkan untuk menggantikan kehilangan cairan pada dehidrasi dan syok hipovolemik termasuk syok perdarahan.
Indikasi : mengembalikan keseimbangan elektrolit pada keadaan dehidrasi dan syok hipovolemik. Ringer laktat menjadi kurang disukai karena menyebabkan hiperkloremia dan asidosis metabolik, karena akan menyebabkan penumpukan asam laktat yang tinggi akibat metabolisme anaerob.
Kontraindikasi : hipernatremia, kelainan ginjal, kerusakan sel hati, asidosis laktat.
Adverse Reaction : edema jaringan pada penggunaan volume yang besar, biasanya paru-paru.
Peringatan dan Perhatian : ”Not for use in the treatment of lactic acidosis”. Hati-hati pemberian pada penderita edema perifer pulmoner, heart failure/impaired renal function & pre-eklamsia.
2.    INFUS IV Ca GLUKONAT / GLUKONAT
isi dari sediaan infus intravena kalsium glukonat yaitu larutan supersaturasi yang distabilkan dengan penambahan 35 mg kalsium D-saccharate, dan harus disimpan pada suhu kamar. Laju infus maksimum yang disarankan adalah 200 mg/menit.
Farmakologi :
Kalsium merupakan mineral yang penting untuk pemeliharaan kesempurnaan fungsi susunan saraf, otot, sistem rangka, dan permeabilitas membran sel. Kalsium adalah aktivator yang penting pada beberapa reaksi enzimatis dan berperan dalam proses fisiologi yang mencakup transmisi rangsangan oleh saraf, kontraksi jantung, otot polos dan otot rangka, fungsi renal, pernafasan dan koagulasi darah. Kalsium juga berperan dalam reaksi pelepasan dan penyimpanan neurotransmiter dan hormon, pengambilan dan pengikatan asam amino, absorbsi vitamin B12 dan sekresi asam lambung.
Farmakokinetik :
Injeksi garam kalsium langsung masuk kedalam pembuluh darah. Setelah diinjeksi, kalsium darah meningkat dengan cepat dan kembali turun dalam 30 menit sampai 2 jam, terdistribusi cepat dalam jaringan serta dieliminasi melalui urine.
3.    INFUS PROTEIN
Protein merupakan makromolekul yang pada hidrolisa hanya menghasilkan asam amino. Sel hidup menghasilkan berbagai macam makromolekul (protein, asam nukleat dan polisakarida) yang berfungsi sebagai komponen struktural, biokatalisator, hormon, reseptor dan sebagai tempat penyimpanan informasi genetik. Makromolekul ini merupakan biopolimer yang dibentuk dari unit monomer atau bahan pembangun.
Asam amino dibagi menjadi dua bagian yaitu:
1. Asam amino essensial yaitu asam amino yang diperlukan oleh tubuh tetapi tidak dapat disintesis dalam tubuh sehingga harus diperoleh dari luar. Contoh : Arginin, histidin, isoleusin, lisin, metionin, fenil alanin, treonin, triptofan, dan valin.
2. Asam amino non essensial yaitu asam amino yang dapat disintesa didalam tubuh. Contoh: Alanin, asparagin, asam aspartat, sistein, asam glutamate, glutamin, glisin, prolin, hidroksiprolin, serin, dan tirosin.
Arginin mempunyai fungsi yang sama seperti asam amino, yaitu meningkatkan stimulan hormon pertumbuhan, prolaktin, dan glukosa darah. Arginin dapat menambah konsentrasi glukosa darah. Efek ini dapat langsung berpengaruh dari hati menjadi asam amino yang berkualitas.
Evaluasi yang dilakukan adalah pH,kebocoran,dan kejernihan.Uji ph dilakukan dengan ph meter sebanyak 3x replikasi dengan hasil yaitu : 5,24 ; 5,25 ; 5,30.Hasil dari evaluasi kebocoran yaitu terjadinya kebocoran dikarenakan menutupnya kurang rapat.Dan yang terakhir evaluasi kejernihan dengan dilihat dilatar belakang hitam dan hasil dari sediaan infus yang dibuat jernih,tidak ada partikel bebas yang melayang.
Tujuan utama pengaturan ph dalam sediaan injeksi adalah untuk mempertinggi stabilitas,sehingga obat-obat tersebut tetap mempunyai aktivitas dan potensi.Evaluasi ph perlu dipertimbangkan,karena jika ph tidak tepat maka menyebabkan :
1.    Berpengaruh pada tubuh terutama darah
2.    Berpengaruh pada kestabilan obat
3.    Berpengaruh pada wadah terutama wadah gelas,plastic,dan tutup karet
Ph darah normal adalah 7,35 – 7,45 sehingga bila sediaan parenteral volume besar mempunyai ph di luar batas tersebut akan menyebabkan masalah pada tubuh.Jika larutan menggunakan dapar,maka ph sebaiknya berkisar 5,5  - 7,5 sedangkan pada larutan yang tidak menggunakan dapar dengan rentang ph 3 – 5.Dalam praktikum ini kami tidak menggunakan larutan dapar,dan didapat hasil yang termasuk dalam kriteria tepat.Bahan-bahan yang digunakan yaitu Na laktat sebagai zat aktif,CaCl2 sebagai pengisotonis dan elektrolit,KCl dan NaCl sebagai elektrolit sedangkan water for injetion sebagai bahan pembawa.
VII.     KESIMPULAN
Praktikan dapat membuat sediaan infus ringer laktat dengan metode sterilisasi panas basah dan kering dengan hasil uji evaluasi yang baik jika dilihat dari parameter ph,kebocoran dan kejernihan.
VIII.    LAMPIRAN
         Semua literatur yang digunakan.
IX.      ACUAN/REFERENSI PROSEDUR TETAP
1.    Niazi, S.K., 2004, Handbook of Pharmaceutical Manufacturing Formulations : Sterile Products, CRC Press, United States of America
2.    Lachman, Leon. Teori dan Praktek Farmasi Industri. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press), 1989.
3.    Agoes, Goeswien, 2009. Sediaan Farmasi Steril. Bandung : Penerbit ITB
4.    Anonim, 1995, Farmakope Indonesia Edisi IV, Departemen Kesehatan Republik Indonesia,Jakarta
5.    Sinko, Patrick J., 2006, Farmasi Fisika dan Ilmu Farmesetika, Edisi 5, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
6.     Lukas, S., 2006. Formulasi Steril. C.V. Yogyakarta
7.    American Pharmeceutical Asosiation, 1994, Handbook of Pharmaceutical Excipient Edisi V, London : The Pharmaceutical Press.
8.     Anief, Moh. Ilmu Meracik Obat. 2004. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
9.    Ansel, Howard C. 1989.Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, edisi keempat. Jakarta : UI-Press. 
10.  Voight, 1994, Buku Pelajaran Teknologi Farmasi, edisi V, Gadjah Mada University Press, Jogjakarta.
11.  Fardiaz, Srikandi. 1992.Mikrobiologi Pangan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.PAU Pangan dan Gizi. Institut Pertanian Bogor,Bogor.
12.  Anonim, 2012, Cara Pembuatan Obat yang Baik dan Benar (CPOB), BPOM, Jakarta




Tidak ada komentar:

Posting Komentar